Jumat, 13 Maret 2015

MISTERI PULAU PASKAH

Misteri Pulau Paskah


Dalam mengungkap misteri sejarah Pulau Paskah (Easter Island), jauh sebelum bangsa Eropa tiba pada tahun 1722, dimana budaya Polinesia asli atau lebih dikenal sebagai Rapa Nui menunjukkan tanda-tanda penurunan demografi. Dalam fakta membuktikan kebenaran ini, sejarawan telah lama diperdebatkan, apakah degradasi lingkungan yang menjadi penyebabnya atau mungkin sebuah revolusi politik, bahkan tidak terkecuali wabah penyakit.


Baru-baru ini, sebuah studi yang dikerjakan sekelompok ilmuwan internasional termasuk UC Santa Barbara Oliver Chadwick, para ilmuwan menjelaskan analisa yang berbeda dan membantu untuk memperjelas kerangka kronologis. Ilmuwa berharap menemukan adanya perubahan bertepatan dengan kedatangan orang Eropa, tapi dalam analisa justru membuktikan sebaliknya bahwa runtuhnyabudaya Rapa Nui telah dimulai jauh sebelum waktu itu. Hasil temuan ini diterbitkan dalam jurnal Prosiding National Academy of Sciences edisi akhir January 2015.

Kepunahan Budaya Pulau Paskah, Rapa Nui
Wilayah yang dianalisa menggambarkan keragaman lingkungan pulau Paskah seluas 63 mil persegi yang terletak hampir 2300 mil dari pantai barat Chili. Unsur hara tanah di Pulau Paskah lebih sedikit daripada Kepulauan Hawaii muda, pulau yang juga dihuni orang-orang Polinesia diwaktu yang sama tahun 1200 M. 
Menurut Chadwick, seorang profesor di Departemen UC Santa Barbara, dalam menanggapi perdebatan tentang Pulau Paskah dimana sejarawan lain mengatakan bahwa Rapa Nui menciptakan kehancuran lingkungan yang berakibat membunuh bangsanya sendiri. Pendapat lain lain mengatakan, tidak ada hubungannya dengan perilaku budaya dan hal itu disebabkan oleh orang Eropa yang membawa penyakit ke pulau Rapa Nui. Dan dalam penelitian ini menjelaskan bahwa ada kemungkinan kedua pendapat telah terjadi bersamaan atau silih berganti.
Chadwick dibantu arkeolog Christopher Stevenson, Cedric Puleston dan Thegn Ladefoged, mereka memeriksa enam lokasi pertanian yang diduga pernah digunakan oleh penduduk di pulau itu. Mereka memfokuskan pada tiga situs yang berisi informasi mengenai iklim, kimia tanah, dan penggunaan lahan yang ditentukan melalui analisis serpihan obsidian. Tim ilmuwan menggunakan serpihan obsidian atau kaca alami sebagai alat untuk menentukan usia, kemudian mengukur jumlah air yang menembus permukaan obsidian sehingga memungkinkan untuk mengukur berapa lama telah terbuka dan untuk menentukan umurnya.

Salah satu situs pertama yang dianalisis berdekatan dengan pantai laut, terkubur dibawah bayang-bayang hujan gunung berapi dengan curah hujan yang rendah dan ketersediaan unsur hara tanah relatif tinggi. Lokasi penelitian kedua berada disisi interior gunung berapi, wilayah ini mengalami curah hujan yang tinggi tetapi memiliki pasokan nutrisi yang rendah. Lokasi ketiga berada didekat pantai timur laut, daerah ini ditandai dengan volume curah hujan dan nutrisi tanah yang relatif tinggi.

Menurut Chadwick, ketika sejarawan mengevaluasi waktu mereka menemukan bahwa tanah itu digunakan berdasarkan distribusi usia serpihan obsidian masing-masing situs. Wilayah ini menjadi dasar indeks dari tempat tinggal manusia, daerah sangat kering dan daerah sangat basah yang ditinggalkan sebelum ekspedisi orang Eropa. Daerah yang memiliki nutrisi relatif tinggi dan curah hujan menengah telah mempertahankan populasi setelah kontak Eropa.

Dalam studi ini menunjukkan bahwa orang-orang Rapa Nui di pulau Paskah bereaksi terhadap variasi regional dan hambatan lingkungan alami untuk memproduksi tanaman daripada menghancurkan lingkungan sendiri. Melalui tanaman kaya nutrisi, mereka bisa menghasilkan makanan dengan baik, mampu mempertahankan budaya yang layak bahkan di bawah ancaman faktor eksternal termasuk penyakit orang Eropa seperti cacar, sifilis dan TBC.

Salah satu alasan mundurnya daerah marginal menunjukkan bahwa orang-orang Rapa Nui tidak bisa terus mempertahankan sumber makanan yang diperlukan untuk membuat patung besar Jadi, saat ini sejarawan melihat sisi cerita hilangnya penduduk pulau Paskah yang disebabkan faktor alam, sehingga secara tak langsung mempertimbangkan kembali hipotesis sebelumnya tentang adanya kekerasan.

0 komentar: