Senin, 20 Oktober 2014

Mark Zuckerberg Temui Antonius Sasongko Penggagas Kampung Cyber Jogja



Mark Zuckerberg Menemui Antonius Sasongko Penggagas Kampung Cyber Jogja



Bos FB, Mark Zuckerberg Menemui Antonius Sasongko Penggagas Kampung Cyber Jogja

Bos FB, Mark Zuckerberg Menemui Antonius Sasongko Penggagas Kampung Cyber Jogja
Advertisement
Bos FB, Mark Zuckerberg Menemui Antonius Sasongko Penggagas Kampung Cyber Jogja.  Akhir – akhir ini, Indonesia kedatangan tamu yang istimewa yakni pendiri media sosial terbesar di Dunia, FB. Mark Zuckerberg sendiri diketahui mengunjungi sebuah kampung cyber yang terletak di kota Jogja.
Mark mengunjungi kampung cyber pada hari Minggu kemarin, 12 Oktober 2014. Selain itu, letak dari kampung cyber berada di Taman Sari, RT 36, Jogjakarta.
Kunjungan itupun tak disangka dan terkesan sangat mendadak, lantaran tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya. Programer asal Amerika Serikat tersebut sengaja menyempatkan diri mengunjungi Kampung Cyber di sela kunjungannya ke Kota Gudeg.
“Tadi dia datang sekitar pukul 15.00, ditemani bodyguard serta beberapa asistennya. Saya sendiri enggak menyangka dia datang ke sini, dan mendadak pula,” jelasnya saat ditemui di rumahnya, Minggu malam.
Penggagas kampung cyber tersebut juga menyebutkan jika Mark kurang lebih berada di kampung tersebut kurang lebih selama 30 menit. Ia sendiri juga menambahkan jika ia tak sempat mempersilahkan Mark mengobrol di rumahnya sendiri.
“Cuma ketemu di jalan kampung, lalu dia ingin mengobrol dan tanya-tanya soal kampung cyber, ngobrolnya juga di Pos Ronda yang biasa dijadikan warga untuk tempat belajar internet,” bebernya.
Lebih lanjut, ia juga mengatakan jika Mark sangat antusias sekali dengan sejarah kampung cyber, apalagi ia juga menambahkan jika media sosial FB merupakan media berkomunikasi antar warga.
“Dari ekspresi wajah dan gerakan tubuhnya, dia memang kelihatannya antusias sekali. Dia tidak banyak bicara, lebih banyak mendengarkan penjelasan saya sambil manggut-manggut,” kata Koko, sapaan akrabnya.
Koko pun berujar, Mark memang mengaku mengetahui keberadaan Kampung Cyber di Taman Sari tersebut. Namun ia tidak mengatakan secara terus terang dari mana sang programmer itu mengetahui kabar tentang Kampung Cyber ini.
“Welcome to RT36 Taman Kampoeng Cyber” begitulah nama kampung yang tertulis dengan tipografi huruf besar di sebuah tembok penanda jalan di kampung Taman, Yogyakarta. Letaknya persis dibalik pelataran komplek wisata pemandian istana raja Taman Sari, Yogyakarta. Bukan sekedar papan nama, kampung ini juga menjadi contoh serta obyek wisata daerah-derah dari luar Yogyakarta yang ingin menjadikan Cybercity bagi kotanya.
Tak sukar mencari kampung ini, bila bertanya dengan para pedagang yang mangkal di pelataran kompleks atau pemandu wisata pemandian istana raja. Dengan bangga mereka akan menunjukkan dan memberikan informasi tentang orang-orang yang menggagas kampung melek teknologi ini.
Julukan kampung cyber bukan hanya slogan agar warga kampung RT.36, RW. 09, Taman, kelurahan Patehan, kecamatan Kraton ini melek teknologi. Tapi juga sebagai identitas kampung yang berada di sekitar kampung Taman. “Di kampung ini punya nama beda-beda, ada kampung hijau, kampung batik, dan RT 36 kampung cyber, ”ujar Antonius Sasongko yang akrab disapa Koko, penggagas kampung cyber.
Tahun 2009 dengan modal gotong-royong, kampung ini berhasil mewujudkan media internet ke rumah-rumah warga dengan biaya yang terjangkau per bulannya. Setiap warga yang memasang kabel internet di rumahnya dikenakan biaya  Rp..40.000  per bulan. Hingga saat ini, akses internet sudah tersambung ke duapuluh lima rumah warga dengan menggunakan jaringan kabel. Segala kegiatan dan informasi yang berkaitan dengan kampung warga bisa mengaksesnya di situs bernama“RT36Kampoengcyber”.
Situs ini juga dimanfaatkan untuk mempromosikan potensi usaha lokal yang ada di kampung Taman. Seperti usaha batik, toko online, dan pendidikan wisata cyber. Semua warganya pun kini telah terbiasa dengan internet. Bahkan dari anak-anak sampai lansia memiliki akun jejaring sosial. “Warga kampung sini bukan orang-orang yang berpendidikan tinggi, tetapi mereka juga orang-orang yang mau belajar, ”tutur Koko.
Kesulitannya memperkenalkan internet kepada warga adalah bagaimana setiap rumah harus memilki hardware; PC atau komputer serta kebutuhan internet yang berbeda-beda setiap warganya. “Setahun saya meyakinkan warga, akhirnya pak RT setuju. Percobaan pertama orang-orang yang punya komputer. Ternyata warga melihat dan antusias, ”tambahnya. Kampung ini juga menyiadakan akses internet di ruang publik seperti di pos ronda.
Banyak pengunjung dari daerah lain yang datang ke kampung ini-- sekedar berwisata di pemandian istana raja dan langsung menuju kampung cyber untuk menyaksikan langsung kampung yang melek teknologi-- yang dulunya merupakan rumah abdi dalem keraton. Bahkan Koko dan para penggagas sering diundang sebagai pembicara atau memberikan workshop tentang kampung cyber di berbagai tempat.
“Ini mematahkan teori tentang internet yang akan menjadikan orang individualis, tetapi sebaliknya karena internet-- mereka masih suka gotong royong dan komunikasi kita tidak terputus,” ujar Koko.

0 komentar: